Langsung ke konten utama

Untuk Langit

najmthree.wordpress.com

jika suatu hari nanti, kamu menemukan tulisan ini,
benar, ini aku tulis untuk kamu yang hatinya teramat lembut sehingga aku tak dapat menyentuhnya dengan sembarang laku.
benar, ini sama sekali tak manis jika dibandingkan dengan lembar-lembar puisi yang pernah kita baca bersama.
benar, ini menunjukkan kelemahanku yang tak mampu mengatakan, bahwa aku di sini, untukmu.

jadi, jika kamu ingin pergi, maka pergilah tanpa membebaniku. jika pun kamu ingin runtuh, runtuhlah tanpa melukaiku. menghilanglah hingga aku tak dapat melihatmu.

karena aku akan selalu di sini untuk berbagi lara dan bahagiamu, lantas tumbuh bersamamu hingga senja terakhir yang akan kita lalui.

maka berhentilah bersedih, Langit-ku, aku ada di sini untukmu...


dan jika suatu hari nanti kamu membacanya, percayalah aku akan tetap mengingatmu.
jangan pernah berpikir untuk benar-benar pergi karena aku pasti amat kehilanganmu.
percayalah, kamu membebaniku jauh lebih baik daripada aku tak melihatmu lagi.
bahwa kamu yang teramat tinggi dan teramat jauh di sana, lebih menyenangkan daripada tak terlihat sama sekali.
bahwa jika kamu akan runtuh, akan ada aku yang menangkapmu di bawah sini.

jadi di mana pun kamu, berhentilah bersedih,Langit-ku.
aku merindu purnama biru yang akan kulalui lagi bersamamu, di hamparan ilalang yang tak seorang pun tahu. bukan, sebenarnya bukan purnama bru, tapi kamu yang akan selalu aku rindu.


http://bit.ly/1WcAWTC

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat - Danarto

#Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat adalah salah satu cerpen dalam kumpulan cerpen Adam Ma'rifat karya Danarto yang terbit tahun 1982. Mereka toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat - Danarto

menunggu

itulah seni menunggu. aku tak pernah tau apakah dia takkan pernah datang, atau hanya terlambat. yang aku takut, justru tepat saat aku lelah dan menyerah, tak lagi ingin menunggu, dan mulai berjalan pergi, saat itu dia datang di belakangku, tanpa mengenali punggungku. dan ia akan menunggu, sedang aku tiada pernah melangkah kembali.

catatan terakhir untukmu, tulip kuning :)

mawar putih untukku masih tak kuketahui kapan datangnya. sedang tulip kuningku yang terakhir, sudah kusematkan bersama kerelaan melepasmu. mengikhlaskanmu. atas semua yang berlalu. menghapus siluetmu. atas harapan yang menjelang. mengukir senyumku. atas manisnya semua ini, hari ini.